Menggali Ilmu di Pojok Pertokoan Pondok Indah Plaza 1

Agustus 15, 2013 pukul 8:46 am | Ditulis dalam Program Pendidikan | Tinggalkan komentar
Salam,
Bapak/Ibu yang kami hormati,
Selamat Lebaran. Minal ‘aidin wal faizin. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbala ya karim. Mohon maaf lahir dan batin.
Pengelola Kajian Paramadina/Mushalla Raharja Paramadina,
Rahmat Hidayat
Yedi Kuswadi
Achmad Rifki
Liputan Kompas hari ini tentang kegiatan Paramadina:
 
Menggali Ilmu di Pojok Pertokoan
Harian Kompas, Senin, 12 Agustus 2013
Khazanah, Hal 2
 
Mushala Rahardja Paramadina menjadi satu-satunya mushala di kawasan pertokoan Pondok Plaza I, Jakarta Selatan. Di suatu siang, saat dzuhur, beberapa orang yang datang ke mushala meminta izin menunaikan shalat. Mereka bertanya terlebih dahulu apakah bisa menumpang shalat. Maklumlah, penampilan gedung pertokoan tidak menunjukkan adanya tempat ibadah meski terdapat spanduk nama mushala.
 
Setiap hari Jumat, mushala kecil dengan tambahan tenda di bagian depan bisa menampung sekitar 400 orang. Pada bulan Ramadhan, setiap malam digelar shalat tarawih, dilanjutkan dialog Ramadhan. Pada hari biasa, mushala yang juga memiliki satu ruang kelas itu tak pernah berhenti menggelar kajian agama Islam. Beberapa nama sering menjadi narasumber kajian, seperti Achmad Chodjim dan Muhammad Baqir.
Nah, siapa sangka, di tempat itulah, pada 1990-an, Nurcholish Madjid–akrab disapa Cak Nur–sering berceramah di depan ratusan orang. Berbagai tema keindonesiaan dan keislaman selalu menarik perhatian banyak orang meski kadang menimbulkan pro dan kontra.
Sebelum berubah menjadi mushala, tempat itu merupakan kantor Yayasan Paramadina yang didirikan Cak Nur dan tokoh cendekiawan lainnya.
Dari situs resminya (www.paramadina.or.id), disebutkan Paramadina didirikan para tokoh cendekiawan dan wiraswasta muda Indonesia. Awalnya Cak Nur, Dawam Rahardjo, Utomo Dananjaya, dan Fahmi Idris bekerjasama dengan pengusaha, seperti Abdul Latif dan Ahmad Ganis, membentuk kelompok studi keagamaan. Salah satu program unggulannya adalah Klub Kajian Agama (KKA) yang digelar sebulan sekali.
Paramadina didirikan untuk melayani kebutuhan kelas menengah baru Islam di Indonesia. Kalangan menengah ini cenderung memiliki orientasi program ke luar. Tujuan Paramadina adalah memungkinkan bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslim, menghadapi masa depan dan memanfaatkan Islam sebagai sumber yang kaya akan nilai-nilai bersama.
Setelah Cak Nur meninggal tahun 2005, Rahmat Hidayat yang kini menjadi pengelola Mushala Rahardja Paramadina tetap mengabdikan diri mengurus kantor lama Paramadina. Bangunan itu pun berfungsi menjadi mushala. Bukan sekadar tempat beribadah, melainkan juga tempat belajar soal Islam.
Rahmat mengatakan, setiap hari selalu ada kelas yang membahas kajian agama Islam. Beberapa tema yang disampaikan di kelas, misalnya, adalah Tadabbur Al Quran dan Ajaran Makrifat Nusantara, serta Kajian Ushul Fiqh dan Logika.
“Satu ayat (Al Quran) bisa dibahas selama empat sampai lima kali pertemuan, atau membahas ‘Bismillah’ saja bisa sampai empat kali. Tujuannya, bagaimana bisa mendapatkan makna yang lebih dalam,” kata Rahmat. (SIE)
 

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: