Selamat Ulang Tahun ke-71 Cak Nur!

Maret 20, 2010 pukul 9:54 am | Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar

Selamat Ulang Tahun ke-71 Cak Nur!

by Mohammad Monib

Minggu berlalu (14 Maret 2010) saya bertemu Ibu Omi Komaria Madjid dalam tasyakuran khitanan Qidsa Akal Dewa, putera pertama Muhammad Wahyuni Nafis. Sambil salaman, Bu Omi bilang:“Monib, Cak Nur lahir 17 Maret lho!”. Saya tidak tahu kenapa beliau ungkapkan hari hadirnya kepada saya. Malamnya saya terpikir menulis artikel ucapan selamat kepada guru tercinta kami. Tentu saya sadar kapasitas untuk menulis pemikiran Cak Nur secara lengkap. Itu karena seperti Mas Budhy Munawar Rachman katakan—Mas Dawam Rahardjo memanggilnya Sang Penafsir Cak Nur—bahwa “Guru Bangsa” ini merupakan ensiklopedi hidup. Bagi yang penasaran silahkan baca Ensiklopedi Nurcholish Madjid setebal 4000 halaman dan memuat 2400 entri. Termuat di dalamnya pikiran-pikiran Cak Nur tentang Islam dari A-Z.

Kini Cak Nur berusia 71 tahun. Beliau lahir 17 Maret 1939 di Mojoanyar Jombang. Jasad boleh kembali “inna lillahi wainna ilaihi rajiun”, namun umur dan kehadirannya abadi di hati dan akal sehat umat. Inilah makna panjang umur yang sesungguhnya. Tiga (3) ruh pemikirannya: keislaman, keindonesiaan dan kemodernan menjadi ajaran sophia parennis (kebenaran abadi) bagi umat, kaum intelektual dan bangsa Indonesia. Perkenankan saya sebagai generasi muda membuat catatan apresiatif spirit dan metodologi keislaman tak ternilai yang dibelanya sampai ajal menjemputnya dengan bahagia.

Cak Nur muda berobsesi menjadi masinis. Penarik gerbong kereta api. Mimpinya menjadi kenyataan. Beliau menjadi lokomotif pembaruan atau penyegaran paham keislaman Indonesia. Itu bermula adanya blessing in disgues dalam perjalanan hidupnya. Pertama, karena kharisma dan bobot ilmunya, 2 kali beliau menjadi Ketum PB HMI. Kedua, karena berkah terselubung makalah bertajuk:Beberapa Catatan Sekitar Masalah Pembaruan Pemikiran Islam dan Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat dan beberapa terma:sekulerisasi, makna Islam, Islam Yes Partai Islam No. Tanpa itu, umat tetap terlena dan tidur panjang di atas sajadah, pojok-pojok mushalla dan madrasah yang kumuh. Padahal, Islam merupakan the living values yang membebaskan dan penuh dengan the idea of progress. Ide-ide ilmu pengetahuan dan peradaban cemerlang dalam sinaran dan cahaya takwa. Kesadaran Ilahiyah lewat pengabdian kepada amal dan karya-karya kemanusiaan.

40 tahun berlalu sejak batu pancang pertama gerakan pembaruan Islam dilakukan di TIM tahun 70-an. Tentu saya pahami Pak Natsir, Subchan, Rasyidi, Daud Rasyid, A Qadir Jaelani, M Kamal Hassan, Ridwan Saidi yang sempat sock dan melakukan counter intelectual terhadap tawaran penyegaran Islam Cak Nur.Sayang, sebagian beliau-beliau ini sampai sekarang pun tetap enggan membaca Buku Islam, Doktrin dan Peradaban. Tulisan komprehensif dan magnum opusnya.Justru Frans Magnis Suseno yang begitu apresiatif dan membacanya penuh kekaguman. Buku ini, bagi Pak Magnis memperlihatkan dirinya sebagai sosok intelektual muslim terkemuka yang tidak gagu, juga tidak gagap memposisikan Islam terhadap kelokalan (keindonesiaan) dan kemodernan. Magnis menemukan titik temu ajaran semua agama terhadap nilai-nilai kemanusiaan.Penghormat terhadap martabat dan derajat kemanusiaan (HAM). Inilah pesan dasar dan makna kehadiran manusia, agama dan Nabi dan Rasul di muka bumi. Pikiran genuine dan orisinil dalam penyegaran Islam Cak Nur.

Sebetulnya saya ingin diskusi serius tentang:di mana letak pemikiran Cak Nur seka-rang?Bagaimana nasib tawaran pembaruan Islam yang diobsesikannya?Bagaimana mengukur keberadaan dan kontinuitas keislamannya? Apa daya tangan tak sampai.
Saya ingin membaca Cak Nur sebagai sebuah teks dan menghubungkannya dengan konteks. Tidak apalah kalau saya dinilai Nasr Hamid Abu Zaid mania. Cak Nur dihadapkan pada kondisi dan realitas umat yang sangat memilukan, bodoh,miskin dan terbelakang dalam semua bidang. Inilah teks dan konteks sosial yang dibacanya. Islam yang dipahami umat sekadar identitas, pengakuan lisan dan teks al-Qur’an dan Hadis dibaca secara literasi (harfiyah). Berislam pada konteks jaman itu tidak lebih sekadar ritual dan ibadah kosong makna. Firman Allah tidak lebih sekadar ajian-ajian untuk pengasih, jimat dan mantera-mantera pengusir roh jahat, jin, iblis dan syetan. Agama luhur yang diselimuti mitos-mitos. Model berislam seperti ini sampai sekarang masih dominan. Di sinilah pentingnya sekulerisasi dan modernisasi atau rasionalisasi yang beliau tawarkan. Nurcholis arbiter,semau gue, kata M.Rasyidi. Tidak relevan,berbahaya dan bisa keluar dari hakikat Islam,demikian kekuatiran M.Natsir,tokoh Masyumi. Bahkan, “apa yang dilakukan Nurcholish “terlalu jauh”. Islam telah sempurna dan akan mengubah akidah umat”, teriak dan warning Subchan SE. Benarkah akidah dan keislaman umat tergadaikan hanya karena penyegaran paham keislaman Cak Nur?

Berkaitan istilah yang beberapa kali membuat sock tokoh-tokoh umat apalagi kaum awam, saya ingat kisah Cak Nur tentang kebanggaan muslim China di Peking. Umat di sana bangga karena nama bangsa China terekam sampai di jazirah Arab dan lisan mulia Muhammad menyebutnya dalam Hadis “uthlub al-ilma walau bi al-shin”. Tentu maksud seruan Nabi agar kita menimba dari China ilmu-ilmu non-agama. Apa itu?Ilmu pengetahuan tentang bubuk mesiu dan membuat kertas. Substansinya; ambil spirit keilmuannya, buang mitologinya. Inilah tradisi dan spirit muslim klasik. Dari kosmopolitanisme ini lahirlah masa keemasan Islam.

Ada baiknya kita tidak memotret Cak Nur sekali jadi. Hanya karena Seculer City-nya Harvey Cox atau pikiranTalcot Parson, beliau dicap sebagai pengasong kehidupan nir-agama. Kehidupan sekuler. Zero ajaran agama dan kesadaran ilahiah. Ketika Megatrend 2000nya Jhon Naisbitt dan Aburdence meramalkan kebangkrutan agama-agama, Cak Nur justru melawan tesis keduanya dengan era kebangkitan agama-agama dan spiritualitas. Bagi beliau, sangat tidak mungkin manusia menolak nilai-nilai kebenaran dan agama. Kebenaran dan agama itu fitrah dan sesuai dengan kedirian manusia (fitrah a-majbulah dan al-munazzalah).Itulah mengapa Cak Nur mengejek ateisme. Menurutnya,yang ada hanya sekadar pura-pura ateis atau sekadar agnotisme.

Saya yakin,jangankan umat yang secara umum awam, sederhana, berislam yang komu-nalistik, ikut-ikutan dan membeo, kaum intelek yang berseberangan dengan Cak Nur pun sama sekali tidak membaca tulisan-tulisannya. Saya pribadi melihat pikiran dan tulisan guru kami kaya ayat-ayat Qur’an dan Hadis, sufistik, ruhaniyah dan ilahiyah. Hingga, Mas Ulil Abshar,dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL) menamainya sebagai skripturalis atau tekstualis. Itu karena Cak Nur melihat persoalan-persoalan umat dan dinamika kemodernan dari sudut pandang teks dan berbasis literature klasik.Tidak terlalu melenceng bila ada yang mentahbiskan Cak Nur sebagai teolog daripada seorang filusuf.

Membaca Cak Nur memang butuh kearifan metodologi dan wawasan intelektual yang mumpuni. Mesti punya ketersambungan intelektual, kenal tradisi dan karya-karya intelektual klasik dan modern. Bagi aktifis halaqah atau tarbiyah yang kenal Islam sekadar lewat terjemahan al-Qur’an atau Hadis ada baiknya untuk mencermati seruan al-Qur’an. “jangan-jangan kalian membenci sesuatu padahal ia membawa manfaat bagi kalian. Begitupun sebaliknya”. Atau seperti kearifan al-Syafi’i:Bisa saja pendapat saya benar,namun mengandung potensi salah. Atau bisa saja pendapat orang lain salah,namun memiliki potensi benar. Cak Nur menamainya sebagai “keraguan yang sehat” atau relatifisme yang produktif. Saya kuatir, kisah mahasiswa Annimarie Schimmel yang mengklaim paham sufisme hanya sekadar membaca karya tulis Maulana Rumi dan menarikan “Darwis Dancing” menjadi watak keislaman kita. Mudah mengkafirkan dan murtadkan yang lain hanya berbekal syahadatain.

Beberapa pokok hikmah, kebenaran dan validitas pikiran Cak Nur telah diuji sejarah. Sayang, kunci-kunci kebenaran itu sengaja ditelantarkan bahkan sengaja dibuang oleh umat. Asas tunggal Pancasila, islam inklusif dan pluralis searah dengan ajaran Islam. Inilah pemersatu keabadian bangsa Indonesia. Jargon Islam Yes Partai Islam No sebagai rumusan dari nyoblos atau tidaknya partai Islam atau nasionalis-sekuler bukan kesalahan akidah.Ini terbukti valid. Partai tidak ada kaitanya dengan kualitas keislaman. Partai Islam sebangun dengan partai sekuler. Partai Islam tidak laku di pasar politik Indonesia. Pemilu 2009 membuktikan itu. Inilah pentingnya untuk sabar dan tidak “keburu nafsu” menilai Cak Nur. Ini pernah dilakukan beberapa kali oleh Hamid Fahmy Zarkasyi, intelektual dari Pesantren Gontor. Hanya karena eforia politik dan kerumunan partai Islam pada Pemilu tahun 1999, ia mengira tesis Cak Nur salah. Begitu pun tawaran sekulerisasi dan pluralisme.
Sejarah selalu ditentukan oleh pemikiran yang paling menonjol. Itulah penyegaran pemahaman Islam Cak Nur. Fenomenal dan tertulis dengan tinta emas. Bagi yang menolak pemikirannya, ibarat memukul angin atau paku dan palu.Semakin dihantam semakin kuat menancap.Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Salah satu kumpulan tulisannya.Ingat buku ini ingat puisi Khalil Gibran: Tuhan membuat kebenaran dengan banyak pintu. Untuk mempersilahkan setiap orang yang beriman mengetuk-Nya. Inilah universalisme Islam, pluralisme dan al-hanafiyat al-samhah.

Selamat ulang tahun Cak Nur. Namamu abadi di hati dan intelektual kami.

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. […] Selamat Ulang Tahun ke-71 Cak Nur! March 2010 LikeBe the first to like this post. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: